“Khairunnas anfauhum, sebaik-baiknya manusia adalah manusia yang memberi manfaat bagi orang lain.”


Saturday, 31 March 2012

Gelap


Gelap

Perpisahan…
Gelap pertamaku yang menusuk kalbu
Hilang jiwa terang, hilang berlian asaku

Kehilangan…
Gelap keduaku yang menyayat kalbu
Tak ada cahaya, tak ada pencerahan

Kematian…
Gelap ketigaku yang mencabik-cabik jiwa
Aku sesak, segalanya dirampas dariku

Ada Allah membisikkan harapan
Meniupkan semangat
Mengelus-elus raga
Tapi aku terlalu gelap untuk sekedar menyadarinya

Neraka Dunia


Neraka Dunia

Kong kaling kong
Itu warna dunia kita
Penuh tipu muslihat
Sangat menarik

Neraka… Neraka… Neraka…
Tidakkah kalian sadari kita telah menjumpainya?
Tuhan  telah banyak menegur dengan caraNya
Pernahkah kita mengindahkannya?

Beliung, hujan badai, banjir bandang, gempa, gunung meletus, kecelakaan, wabah penyakit, kelaparan
Tidakkah itu cukup membukakan mata lebar-lebar…
Tidakkah itu cukup memiriskan hati…
Tidakkah itu cukup menyadarkan kita bahwa Tuhan murka, murka, sangat murka

Wahai manusia…
Dimanalah kita pada akhirnya berada
Mengapa begitu giat melakukan kejahatan
Mengapalah menjadikan iblis sebagai teman
Padahal banyak malaikat di sekeliling kita

Tidakkah neraka dunia cukup membuat kita ketakutan akan neraka akhirat?

Dia Dirimu


Dia Dirimu

Dia dirimu…
Yang sama bermimpi menjelajah galaksi
Yang sama gilanya menerawang angkasa
Yang sama menderita demi menggapai bintang

Dia dirimu…
Yang berseri-seri saat menghayalkan mimpi
Yang membuncahkan semangat saat ragu
Yang diam mendengar saat duka
Yang penuh petuah saat salah

Dia dirimu…
Yang mengagumkan
Yang mengejutkan
Yang penuh imajinasi
Yang penuh kehangatan
Yang penuh mimpi masa depan

Dia dirimu… kawan.

NB: For my beloved friend who always inspiring me at all times. Huge thanks for you. Keep on fire, dreamer! Keep istiqomah, fastabiqul khairaat!


Shadow


Shadow

Aku pernah mengenalmu
Dulu, bertahun-tahun yang lalu
Kau berbeda, sangat berbeda
Angkuh, skeptis, dan misterius
Tetapi diam-diam kau peduli, sangat peduli

Kau tahu kawan,
Bahkan hingga bertahun-tahun aku tak pernah lupa dan tak ingin lupa
Bahwa aku pernah memilikimu

Entahlah…
Apakah kau masih seseorang yang sama?
Ataukah kini berbeda?
Ya, pasti berbeda

Kini kau hanya bayangan
Hanya imajinasiku
Kau tak pernah benar-benar ada
Kini kuragu apakah sahabat itu nyata…



Sepucuk Surat Untuk Indonesia


Sepucuk Surat Untuk Indonesia

Sepucuk surat untuk Indonesiaku
Setangkup harapan untuk negaraku
Sekeping rindu dariku untukmu negeri Indonesia

Jauh ku menghilang, akankah kembali, ah tak taulah
Bagaimanakah wajah Indonesiaku kini?
Hitam, putih, atau abu-abu seperti dulu?

Kutinggalkan dunia penuh ketidakberdayaan, lemah, terlalu lemah
Masihkan Justisia tinggal disana?
Ataukah kini Indonesiaku hidup dalam neraca justis yang timpang?

Aku kan kembali, nanti, ketika aku cukup berkuasa untuk merubahmu
Ssstt, aku sedang membangun disini
Membangun mimpi dan kekuatan untuk mencerahkan wajah Indonesiaku

Berapa Harga Keadilan?


Berapa Harga Keadilan?

Berapakah harga keadilan itu?
Haruskah kubayar dengan darah?
Berapakah harga keadilan itu?
Haruskah mati untuk mendapatkannya?

Dimanakah supremasi yang engkau elu-elukan wahai negaraku?
Dimanakah janji perlindungan itu?
Saat kami terpuruk dalam ketidakberdayaan
Adakah engkau melihat, mendengar, dan merasakan?

Saat letusan melululantahkan
Saat api melalap
Saat penjara menanti
Saat napas tinggal satu-dua

DIMANAKAH KEADILAN ITU?

Dimanakah kalian saat semua terjadi?
Apakah singgasana emas begitu melenakan bahkan untuk menengok sejenak?
Berapa harga keadilan itu?
Tak ada lagikah keadilan yang gratis tanpa nominal-nominal tebal itu?
Kurindu jiwa Indonesiaku, jiwa yang membawa surga bagi bangsa




Taubat


Taubat

Tuhan, kadang ku merasa lebih dekat denganMu
Tetapi sering ku merasa sangat jauh dariMu

Ketika gemuruh petir membisikkan peringatan
Ditambah dahsyatnya topan yang Kau kirimkan
Aku tahu alam pun geram denganku
Tetapi aku malu, malu untuk memohon ampunanMu

Batinku berperang dengan tubuhku
Aku tahu akan begini jadinya
Aku pun tahu harusnya mendengarkan senandung kalbuku
Tetapi hati itu, yang selalu memberikan kedamaian,  kini diam, membiarkanku sendiri dalam penyesalan

Seandainya bisa mengulang waktu
Inginku menjadi hamba yang bertaqwa, yang baik tempatnya disisiMu
Rasanya dosa ini terlalu besar untuk dimaafkan
Ya Allah, jangan berikan aku murkaMu
Terimalah taubatan ini…