“Khairunnas anfauhum, sebaik-baiknya manusia adalah manusia yang memberi manfaat bagi orang lain.”


Showing posts with label Cerpen motivasi. Show all posts
Showing posts with label Cerpen motivasi. Show all posts

Saturday, 31 March 2012

A Wish


A Wish
Dunia, lihat aku disini…
Aku yang bersama air mataku terus hanyut dalam harapan…
Hari-hari cerah untuk jiwa yang hampa…
Jiwa rapuh yang terbungkus raga baja…
Hidupku mengalir lebih deras dari air terjun Niagara…
Rodanya berputar lebih cepat dari jet sekalipun…
Tak tahu kapan wish mulia itu terkabulkan…
Tuhan, tolong jangan lelah dengar pintaku…
            Aiza lupa puisi berjudul wish itu adalah puisi keberapa yang ditulisnya malam ini. Beginilah aktivitas seorang Aiza saat hatinya sedang tak karuan. Entah apa yang sedang mengganggu benaknya malam itu. Dengan penerangan seadanya yang berasal dari lampu berkekuatan lima watt, tak sama sekali membuatnya merasa tidak nyaman. Bagaimana tidak, lampu lima watt itu adalah sahabat terbaiknya yang berjasa besar dalam mahakarya sastra yang diproduksinya.
            “Dek, makan dulu sana. Nanti kamu sakit loh,  dari tadi nulis aja. Masih ada sisa tempe goreng tadi siang, makan gih,” bujuk Ariz setengah memaksa. Merasa tidak mendapat tanggapan, dengan gerakan cepat ia mengangkat dan menggendong paksa Aiza menuju ruang makan sederhana mereka. Aiza hanya bisa berteriak-teriak dan memberontak minta diturunkan. Beginilah kehidupan kakak beradik dari keluarga sederhana ini.
            Walaupun terus dicoba, mata Aiza tidak kunjung tertutup, padahal waktu sudah menunjukan setengah satu pagi. Peristiwa siang tadi begitu membekas dibenaknya hingga menjadi buah pikirannya. Kamar persegi panjang berukuran 2x3 meter bujursangkar dengan dinding bambu itu menjadi tempat ia berkeluhkesah, mencurahkan seluruh hasratnya,  tempat dimana ia kadang tersenyum-senyum lama sendiri, menangis haru membayangkan suatu saat yang indah, saat secret wishnya terkabul.
            Fattah, teman sekelas Aiza siang tadi dengan berat hati harus meninggalkan sekolah. Ia menyampaikan pengunduran dirinya dari SMA Monondok karena alasan klasik tapi mengharukan. Adiknya sakit keras, ibunya hanya berpenghasilan sebagai buruh cuci, sementara ayahnya pergi entah kemana sejak sebulan lalu tanpa kabar berita sama sekali. Oleh karena itu dengan sangat terpaksa Fattah harus mengambil keputusan itu, keputusan yang menentukan masa depannya. Aiza terus memandang Fattah hingga bayangannya hilang di ujung jalan, dilihatnya Fattah berhenti sejenak memandang hikmat sekolah itu, kemudian menunduk dan dengan langkah berat berjalan pulang ke peraduannya, memikirkan bagaimana ia nantinya.
            “Ini benar-benar tidak adil,” ujar Aiza pada dirinya sendiri. “Seharusnya Tuhan mengerti dengan keadaannya, seharusnya Tuhan tahu betapa berartinya sekolah bagi Fattah, seharusnya ini tidak perlu terjadi,” keluhnya setengah berteriak. Air matanya jatuh berderai, Fattah teman terbaiknya, teman seperjuangannya. Mereka sama-sama berasal dari keluarga sederhana, setiap hari berbagi suka duka di sekolah, berdiskusi masalah pelajaran, bermain bersama, rasanya hambar tanpa kehadiran Fattah lagi. Aiza tidak yakin ia bisa sebahagia dulu, setiap memasuki gerbang SMA Monondok ada rasa yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata, rasa yang membuat semangatnya membuncah untuk menuntut ilmu ketika melihat teman-teman sesama pelajar di sekolah itu hilir mudik menuju kelas masing-masing dengan seragam kebanggaan mereka, putih abu-abu kumal yang kadang terpaksa digunakan selama tiga tahun penuh karena keadaan ekonomi yang tidak memungkinkan.
            Malam itu pikiran Aiza bercabang-cabang. Belum tuntas memikirkan sahabatnya yang malang, hal lain melintas di benaknya. Aiza merenungi kehidupannya yang boleh dikatakan cukup mapan walaupun sangat sederhana. Tetapi setidaknya ia masih bisa merasakan indahnya duduk di bangku sekolah. Syukur nikmat, itu pasti. Karena semua berkah itu tak akan pernah singgah di kehidupannya tanpa campur tangan Allah subhana wata’ala. Ketika tatapannya menerawang jauh, tak jelas apa yang sebenarnya ingin dilihat, sekilas ia tanpa sengaja memandang foto ibunya ketika sedang memanen padi di pigura tua penuh sejarah yang terpajang berhadapan ranjang tidurnya. Senyum ibunya merekah,  Aiza dapat merasakan perasaan ibunya saat itu. Musim panen adalah waktu yang selalu dinantikan para petani, apalagi ketika kerja keras mereka berbuah keberhasilan. Sejauh mata memandang, sawah telihat bagaikan hamparan lautan emas, kuning-kuning biji padi bergoyang lembut tersapu angin sepoi-sepoi. Di sana-sini para petani dengan giatnya menyabit batang padi, keringat yang meleleh bukanlah hal yang berarti.
            Melihat foto itu, membuat sel saraf dendrit terdorong menyampaikan impuls dari indera penglihatan ke neuron untuk dilanjutkan ke otak oleh akson, dan menghasilkan respon haru dalam hati Aiza. Ayah dan Ibunya telah mengorbankan banyak hal untuknya. Ia menyesal karena kadang mengabaikan kenyataan itu, kenyataan bahwa setiap tetes keringat orangtuanya adalah setiap hembus nafasnya, nafas yang menyambung hidupnya hingga hari ini bahkan detik ini, saat penyesalan mendalam itu menderanya. Tak seharusnya ia membanding-bandingkan kehidupannya yang kadang kekurangan dengan orang lain yang lebih mapan hidupnya. Padahal banyak sekali orang di luar sana yang untuk makan pun tak mampu. Astaghfirullahaladhim, ya Allah.
            Tanggul pertahanan matanya tak kuat lagi menampung banjir air mata yang siap meluap. Dan akhirnya pertahanan itu jebol oleh tekanan batin yang mahadahsyat. “Aku harus bisa membahagaikan orangtuaku, keluargaku,” ucapnya lirih. Kemudian dengan syahdu, Aiza membuat sebuah wish yang hanya Allah dan dia yang tahu. Wish mulia yang tak tahu kapan akan terwujud. Ia hanya berharap suatu saat wish itu menjadi kenyataan.

Bersambung…
           

Friday, 30 March 2012

Berkah Idul Adha-ku Datang Darinya


Berkah Idul Adha-ku Datang Darinya

            Biasa saja. Tak ada yang istimewa dengan idul adha tahun ini. Mungkin hanya tradisi pemotongan hewan kurban yang membedakannya dengan hari-hari lain. Sehari sebelum hari idul adha, aku benar-benar galau. Tak sedikit pun hatiku tersentuh atau bahkan terbersit pikiran dan perasaan berbeda seperti yang kurasakan ketika idul adha menjelang pada tahun-tahun yang lalu. Apakah tak ada berkah idul adha untukku di tahun ini ya Rabb?
            Kuputuskan untuk jalan-jalan ke mall. Hang out sendirian benar-benar tak ada asiknya, tetapi duduk menonton TV atau membaca novel di rumah lebih tak asik lagi – karena aku melakukan hal itu sepanjang hari di rumah. Gramedia, ya aku memilih untuk kesana sebagai tujuan pertama. Satu persatu kutelurusi buku-buku yang tertata rapi berjejeran di rak-raknya, ingin sekali memiliki perpustakaan sebesar toko buku ini. Khayalan ini selalu memenuhi otakku dan aku berjanji suatu saat ini akan menjadi kenyataan. Perpustakaan pribadi untuk umum – “Risty’s Library”.
            Banyak sekali orang yang berkunjung hari ini, mungkin karena ini hari libur. Ada modeling contest dengan tema buah di lantai dasar, pameran buah, dan penyaluran donasi dompet dhuafa. Ramai sekali. Selesai membaca beberapa dongeng-dongeng import, akhirnya tiga buku dengan genre berbeda kubeli. “Permisi mbak, ngga sekalian sama buku Mimpi Sejuta Dolar karya Mariana Renata?” tanya kasirnya.
            “Umm bukunya tentang apa ya? Novel ya itu?” tanyaku seraya mengambil salah satu buku karya Mariana Renata dan membaca prolognya.
            “Itu tentang perjalanan hidup Mariana Renata sampai ia akhirnya menjadi pengusaha di Singapura,” jelasnya padaku. “Lagi booming loh mbak, penjualan terbaik bulan ini,” tambahnya mencoba merayuku.
            Aku belum begitu tertarik untuk membacanya, mungkin lain kali. “Maaf mbak, mungkin lain kali saja,” ucapku seraya tersenyum dan meninggalkan meja kasir.
            Cokelat. Selanjutnya adalah membeli cokelat. Let me go to hipermart. Setelah puas memilih aneka biskuit cokelat, cokelat batang, permen cokelat - everything about chocolate dan melihat-lihat pameran buah, aku memilih untuk pulang.
Dalam perjalanan pulang, anak kecil pengamen jalanan menyanyikan lagu bernada sumbang di dalam angkutan kota yang aku tumpangi. Muncul rasa iba dan penyesalan dalam hatiku, betapa kehidupanku jauh lebih baik tetapi mengapa aku kufur akan nikmatMu ya Rabb? Tak seharusnya aku seperti ini. Kuberikan selembar uang lima ribu rupiah dan satu cokelat batang yang baru saja kubeli tadi. Ia mengecek kembali uang yang kuberikan, wajahnya menjadi riang. “Terima kasih kak, terima kasih,” ucapnya sumringah. Uang lima ribu rupiah saja sudah cukup membuat senyum bahagia merekah di wajahnya, bagaimana denganku? Dimana rasa syukurku dengan berbagai kemudahan hidup yang diberikanMu ya Rabb? Aku benar-benar malu.
Kuingat-ingat peristiwa kecil itu, mataku berkaca-kaca. Tetapi ada rasa lapang di dadaku karena telah berbagi. Aku belajar tentang rasa syukur dan indahnya berbagi dari seorang anak jalanan. Entah mengapa, rasanya aku lebih bahagia menyambut idul adha. Meskipun jauh di rantau, tanpa orangtua dan sanak saudara, idul adha terasa indah. Inikah berkah idul adha itu? Di hari idul adha itu, aku berjanji untuk lebih sering bersedekah.
Esok harinya, ujian tengah semester yang belum selesai dilanjutkan fakultas. Entah mengapa semangat belajarku membuncah, rasa malas yang menyerang dengan mudah kutangkis. Aura positif dan hal-hal baik bermunculan dalam diriku sejak peristiwa dua hari yang lalu. Kulangkahkan kakiku menuju kampus dengan pasti. “Hari ini harus berhasil,” ucapku dalam hati. Belajarku sudah cukup, tinggal mengulang-ulang beberapa bagian yang masih sulit untuk aku hafalkan.
Aku bertemu seorang pemulung wanita, ia terlihat begitu renta. Mungkin umurnya sekitar limapuluh tahun. Seandainya itu mama, oh aku benar-benar tak tega melihatnya. Ia memungut sampah-sampah plastik bekas minuman, mencarinya dalam tong sampah dan sepanjang jalanan di areal kampus.
“Bu, Ibu!!!” teriakku. “Tunggu sebentar,” ujarku ngos-ngosan. Aku mempercepat langkah lebih tepatnya berlari mengejarnya. “Ini untuk Ibu, semoga dapat bermanfaat,” ujarku seraya memberikan selembar uang limapuluh ribuan.
Ia menatapku lekat-lekat, “terima kasih banyak neng, terima kasih banyak.” Kubalas tatapannya dan tersenyum lebar. Hatiku mengembang, dan benar-benar lapang. Aku begitu bahagia karena dapat berbagi, meskipun sesungguhnya itu adalah uang pemberian papa untukku.
“Terima kasih juga telah mengajarkanku arti berbagi,” gumamku dalam hati seraya meninggalkan tempat itu.
Rasanya banyak sekali hal-hal baik yang datang padaku setelahnya. Tanpa kuduga-duga, seorang teman mengabarkan nilai UTS-ku yang lumayan bagus. Teman lama yang sudah kuanggap saudara, menghubungiku. Aku diberi uang saku tambahan oleh kakakku. Dan puncaknya adalah resah dan gundah yang setiap hari membayangiku akan banyak hal yang tak kutahu pasti itu apa, hilang begitu saja tergantingkan oleh perasaan bahagia. Itu benar-benar membuatku merasa damai. Hari itu begitu menyenangkan dan berlanjut hingga beberapa hari kedepan. Aku jadi ketagihan untuk berbagi. Tidak ada ruginya berbagi, mungkin janji Tuhan untuk menggantinya dengan rejeki yang berlipat-lipat tidak diberikanNya dalam bentuk yang nyata, tetapi melalui kepuasan-kepuasan batin dan kebahagiaan yang lebih dari sekedar uang dalam nominalnya.

SOME POINTS OF MY LIFE


SOME POINTS OF MY LIFE
            Namaku Mimi Manaru. Cerdas, cantik, putih, berambut lurus panjang hitam, ramah, berjiwa sosial dan berasal dari keluarga terpandang – orang-orang sangat sering mendeskripsikanku dengan kata-kata itu. “Itu berkah Tuhan,” ucapku ketika teman-teman mengomentariku berlebihan. Berasal dari keluarga kaya dan memiliki tubuh yang indah kuyakini sebaga berkah dan cobaan dari Tuhan, aku bersyukur karenaNya. Namun yang masih tak kupahami adalah bagaimana orang lain bisa tidak cerdas dan memiliki sikap yang buruk. Benar-benar mengherankan dan mengbingungkan bagiku, bagaimana mereka begitu susah memahami penjelasan guru di kelas, bosan mengulang pelajaran, mendapat nilai yang buruk, berbohong atas sesuatu yang sebenarnya tidak berisiko besar jika dikatakan secara jujur, dan girang ketika guru berhalangan masuk kelas. Rasa penasaranku muncul, aku ingin tahu bagaimana pola pikir mereka.
            “Mimi, bangun sayang!” suara Bunda mengagetkanku. “Sarapannya udah disiapin sama Mbak Noni, Bunda berangkat duluan ya,” Bunda mengecup keningku seraya meninggalkanku yang masih belum sadar sepenuhnya. “Mimiiiii, jangan lupa kamu ada les piano jam dua siang dan seminar bahasa jam lima sore!” ujar Bunda berteriak dari balik pintu. Aku yang masih bermalas-malasan hanya berguman mengiyakan.
            Hari ini hingga dua hari ke depan aku libur sekolah. Tetapi itu tidak berarti hanya bermalas-malasan di rumah. Ayah sibuk dengan pekerjaan di luar kota baru akan kembali minggu depan dan Bunda tidak kalah sibuk mengurus bisnis dan panti sosialnya. Karena keduanya sudah jauh-jauh hari meminta maaf dan merasa benar-benar menyesal (itu apa yang dikatakan Ayah dan Bunda padaku), maka setumpuk brosur berbagai kursus dan info acara disodorkan Bunda. “Mimi, Bunda punya hadiah untukmu. Taraaa!!!” ujar Bunda seraya menebar brosur-brosur itu di meja ruang santai. Sebenarnya aku lebih ingin menghabiskan waktu bersama mereka selama liburan, tetapi egois sekali rasanya jika memaksakan hal itu sementara banyak tanggung jawab pekerjaan meminta untuk diselesaikan. Kupikir tidak begitu buruk menghabiskan masa liburan dengan kegiatan bermanfaat, toh itu akan menambah wawasanku. “Oh iya, kamu bebas memilih jumlah kursusnya, tetapi tolong sesuaikan dengan jadwal sekolah, belajar, dan ekskul ya. Bunda ngga pengen anak semata wayang Bunda punya nilai jelek loh. Is it okay, sweety?” ucap Bunda seraya mengedipkan matanya.
            Bunda segalanya bagiku. Bunda paling mengerti bagaimana memperlakukanku. Aku menyukai setiap hal tentangnya. Menurutku, Ayah sangat beruntung mempunyai istri seperti Bunda. Bunda tidak pernah bersuara keras, bahkan ketika marah pun ia selalu bisa mengendalikan diri dan menggantinya menjadi nasihat-nasihat yang membuatku menangis merasa bersalah. Bunda juga tidak pernah mengabaikan sekecil apapun detail tentang diriku. Seperti hari ini. Meskipun sangat sibuk, ia menyempatkan diri merencanakan liburan menyenangkan dan bermanfaat agar aku tidak kesepian di rumah.
            “Mbak Noni, makasih ya sarapannya. Aku berangkat dulu. Assalamu’alaikum,” ucapku buru-buru.
            “Neng Mimi mau kemana? Lesnya kan baru mulai siang nanti,” tanya Mbak Noni keheranan.
            “Mimi mau main ke rumah teman. Pak Dodo juga ngga usah anterin aku. Mbak ngga usah laporan ke Bunda ya. Janji ngga bolos lesnya,” Mimi mencoba bernegosiasi dengan Mbak Noni. Ia menebar senyum termanis seraya mengedipkan sebelah matanya tanda persekongkolan.
            “Ya sudah. Hati-hati ya. Jangan lupa les sama seminarnya,” pesan Mbak Noni.
           
            Senang rasanya berada diluar rumah barang sejenak. Tak peduli polusi yang ditimbulkan kendaraan atau pabrik-pabrik yang banyak itu, melihat langit biru dan awan-awan dengan berbagai bentuknya cukup mendamaikan hati. Aku akan mengunjungi Afika. Sudah seminggu sejak kecelakaan yang menimpanya, Afika belum juga pulih dan masuk sekolah. Afika tinggal bersama ibunya – Ayah dan Ibunya berpisah sejak ia masih dalam kandungan Ibunya. Latar belakang keluarga yang kelam tidak membuatnya menjadi anak yang berperilaku buruk seperti kebanyakan anak dari broken home family. Ia berbeda dan mengagumkan.
            Aku menikmati pertemanan kami – aku dan Afika. Dia bukan benalu bagiku. Aku tidak menganggapnya rival seperti yang lain. Kesederhanaannya menentramkan siapa saja yang dekat dengannya. Aku tidak memiliki hal seperti itu, sesuatu yang membuat banyak orang dengan ikhlas ingin mengenalku dan menjadi temanku. Kadang perasaan itu membuatku iri, tetapi rasanya sangat salah jika mencemburui Afika dengan segala kemalangan hidupnya. Bukankah aku punya kehidupan yang tidak kalah hebat? Serakah sekali rasanya jika menginginkan seluruh dunia menjadi milikku.
            Kuketuk pintu rumahnya dan mengucap salam. Tidak ada jawaban selama beberapa saat. Pada kali ketiga aku mengucap salam, barulah ada suara sepatu yang ber-tak tik tok menuju pintu. Seseorang dengan usia paruh baya membukakan pintu untukku. Aku disuruhnya langsung ke kamar Afika.
            Keadaannya benar-benar memprihatinkan. Bukan karena lukanya yang parah, tetapi ia terlihat sangat tidak ceria dan tatapannya begitu kosong. “Assalamu’alaikum Ka.”
            “Wa’alaikumsalam.”
            “Gimana keadaanmu?” tanyaku lirih.
            “As like as you can see,” jawabnya tersenyum paksa.
            “Cepat sembuh ya. Maaf baru sempat jenguk hari ini.” Aku merasa sangat tidak enak, Afika pasti sangat bosan dan kesepian harus berbaring sepanjang hari tanpa ada yang menemani.
            “Mi, ngga apa-apa. No need to worry. I’ll fine soon,” ucapnya tak yakin. “Thanks udah mau jenguk aku. Sepi banget disini,” curhatnya padaku. “Mama belum pulang sejak dua minggu yang lalu dan nomor handphonenya pun susah dihubungi. Untung ada Bu Nana, dia yang merawatku selama seminggu ini. Aku berhutang banyak sekali padanya,” Afika menatap kosong, lagi. Matanya berkaca-kaca, banyak kepedihan yang tersimpan rapat dalam hatinya yang kapan pun bisa meledak. “Hmm entah mama masih ingat atau tidak padaku,” gumamnya lirih. “Aku berusaha untuk mengacuhkan segalanya, keberadaan mama yang seperti bayangan, timbul tenggelam, dan hidup tanpa mengetahui siapa ayahku. Aku tahu Mi, aku masih lebih beruntung dibanding banyak anak yatim piatu diluar sana, yang harus menafkahi hidup mereka sendiri. Tetapi mengharapkan mama peduli padaku, apa itu salah?” tanyanya lebih kepada dirinya sendiri.
            Aku tidak tahu harus berkomentar apa. Aku tidak bisa benar-benar merasakan apa yang dirasakan Afika karena aku tak pernah mengalami hal itu. Ayah dan Bunda memang kerap kali meninggalkan rumah dalam waktu yang lama, tetapi mereka tidak pernah lupa menanyakan kabarku. Bahkan dalam sehari Ayah dan Bunda berkali-kali menghubungiku hanya untuk memastikan aku sudah makan atau belum, sudah sampai di rumah atau belum, dan banyak hal sepele lainnya. Aku tidak tahu kalau Afika sebegitu sengsaranya. Kupikir dia gadis terkuat yang pernah kukenal. Dibalik wajah mentarinya, ia menyimpan gelap yang merapuhkannya. Aku menyadari sesuatu hal, orang yang terlihat sangat kuat dan ceria, terkadang adalah orang yang paling rapuh.
            Aku bingung harus menasehati apa agar membuatnya sedikit terhibur. “Ka, aku tahu ini berat untukmu. Tetapi cobalah untuk berdamai dengan keadaan dan ikhlaslah menjalani semuanya. Kamu kan yang sering bilang Allah selalu bersama kita. Maka kali ini pun Ia pasti bersamamu. Mungkin karena keimananmu yang cukup baik, makanya cobaanmu berat,” upss salah. Bukan begitu cara menasehati yang baik, pikirku bingung menyusun kata-kata. “Maksudku, bukankah Allah tidak akan memberi cobaan melampaui batas kemampuan umatnya? So, no need to sad all the times,” ucapku mencoba bijak.
            Tak terasa jam hampir menunjukkan pukul 14.00. Aku harus buru-buru ke tempat les kalau tidak ingin terlambat. Sebenarnya tidak tega meninggalkan Afika sendiri lagi, tapi kalau tidak berangkat sekarang, Bunda pasti mengomel. “Ka, aku harus pergi sekarang. Besok aku mampir lagi kok. Janji,” ucapku takut-takut. Afika hanya mengangguk tersenyum. Kali ini senyumannya tulus dan ia terlihat lebih ceria. Thanks to God yang sudah membuat hatinya kembali ceria.
            Les, seminar, kunjungan ke museum dan science center, les lagi dan lagi, seminar lagi dan lagi, akhirnya ditutup dengan belanja dan jalan-jalan bersama Ayah dan Bunda. Tiga hari yang melelahkan tetapi sangat menyenangkan. Kejutan dari Ayah yang pulang lebih cepat dari yang seharusnya membuatku girang. Kadang jika sedang berpikir sendiri, aku begitu takut hari-hariku berubah menjadi buruk. Waktu yang telah aku lalui begitu berharga dan aku ingin terus seperti itu selamanya. Aku selalu menangis saat membayangkan dugaan-dugaan terburuk yang bisa terjadi dalam hidupku. Karenanya dengan segenap hati aku berusaha memberikan dan menjadi yang terbaik untuk Ayah dan Bunda.  
*****
            “Sekolah lagi, belajar lagi, bertemu banyak teman lagi, bright day…,” gumamku tak jelas. Sampai di sekolah aku langsung ke kelas Afika, tetapi tidak ada tanda-tanda kedatangannya hingga beberapa saat dan aku pun menuju kelasku sendiri. Kulihat semua sibuk mengerjakan tugas Bu Audrey. Dan tiba-tiba…
            “Mimiiiiiiiiiiiiii, ya ampun lama kali kau muncul,” teriak Dani dengan logat bataknya, antara sebal, mengeluh dan gelisah.
            “Suka-suka gue dong mau datang jam berapa. Kenapa? Mau pinjem tugas lagi lu? NO WAY!” dezzzz, kata-kataku telak mengena sasaran. Ia terkejut mendengar penuturanku yang tanpa basa-basi. Sebenarnya aku tidak keberatan dengan kebiasaan buruk teman-teman yang kurang peduli dengan pelajaran. Di satu sisi itu menguntungkan. Semakin sedikit anak-anak yang serius belajar, sedikit pula sainganku di kelas. Tetapi, aku benci persaingan yang biasa-biasa, tidak ada tantangan yang berarti. Pada akhirnya perlahan-lahan aku akan seperti mereka.
            “Ah pelit kali kau,” gerutunya sebal. Tetapi kemudian, “kita barter,” ujarnya lebih pada diri sendiri. “Kau beri aku contekan, pada kali berikutnya kau menyontek punyaku. Bagaimana?” ia mencoba bernegosiasi denganku. Wajahnya dibuat seekspresif mungkin agar aku tertarik.
            “Butet, berani kali kau,” candaku mengikuti logat bataknya. “Kayak yang rajin ngerjain tugas aja. Boleh aja, kita barter. Gue pinjemin ni tugas, lu harus mau gue wawancara. Deal?”
            Dani menjadi berbinar-binar. “Gampang kali itu. Tapi pinjamlah dulu tugas kau, urusan wawancara bisa kita lakukan nanti setelah istirahat,” ujarnya lagi.  
            Akhirnya usai sudah perjumpaan dengan Bu Audrey yang cukup menegangkan. Beliau tidak bisa dibilang “killer”, tetapi juga sangat tidak benar jika menyebutnya “easy going person”. Aturan-aturan kedisiplinannya yang ketat dan pembawaannya yang selalu serius membuat kami harus memaksa diri menyimak dengan baik penjelasannya, meskipun otak, mata dan hati menolak mentah-mentah.
Belajar matematika selama kurang lebih tiga jam cukup membuat kepala cenat-cenut. Meskipun menarik, tetapi harus kuakui aku tidak begitu menikmatinya. Materi penerapan trigonometri mencari luas bangun benar-benar memusingkan. Tahapan penyelesaian yang bertele-tele, mencari sudut, garis perpotongan yang tidak tahu berapa panjangnya, dan segala tetek bengeknya membuatku harus berpikir keras untuk memahami semuanya. And I hate that.
            Aku sedang latihan mengerjakan soal Bu Audrey ketika Dani datang menghampiriku. “Okay madam. Mr. Dani Gunawan from International Science Corporation ready to interview right now,” candanya dengan wajah sok penting.
            “Dan… Dan… Lagak lu udah kayak pejabat teras aja.”
            “I’ll be the next leader in this country, don’t you know that?”
            “Udah-udah, stop becandain gue. That’s annoying, you know,” ujarku pedas. “Gue pengen tahu kenapa kalian malas belajar, malas ngerjain tugas, dan malas-malas lainnya?” tanyaku serius.
            “Begini,” ucapnya memulai, tidak kalah serius. Aku jadi geli berada dalam diskusi kurang penting tetapi penuh keseriusan.
            “Butet, tak usah berlebihan. Biasa saja kau. Tak usah sok serius begitu,” kataku menahan senyum geli.
            “Alamak. Kau ini, menyela terus. Bagaimana bisa aku konsentrasi. Diamlah Mimi,” ujarnya serius. “Aku harus memberikan penjelasan yang konkrit, apa tak rugi kau kalau aku menjawab asal-asalan, padahal berlembar-lembar tugasmu kucontek?” tanyanya padaku.
            “Oke, gue tutup mulut. Now, please explain!”
            “Sebenarnya Mimi, semua orang cerdas. Kau hanya tidak mengerti makna kecerdasan itu,” Dani memulai dengan argument yang terkesan menjatuhkanku.
            “Apa? Lu bilang gue ngga ngerti cerdas itu apa!” selaku terkejut. Sedikit mengesalkan, tapi mari dengar penjelasannya.
            “Hey  hey. Berhentilah dulu menginterupsi,” ujarnya kesal. “Meskipun kau termasuk yang pandai berhitung, menganalisis, dan imajinatif tetapi pastilah kau punya kelemahan,” jelasnya dengan mimik wajah serius.
            “Loh, lu kok jadi ngritik gue sih. Kan yang wawancara gue, kenapa jadi lu yang jatohin gue,” Dani benar-benar mengesalkan. “Gue nanya kenapa kalian malas belajar, BUKAN makna kecerdasan!”
            Dani terkejut dengan reaksiku. “I’m sorry-lah Mi. Didn’t mean to hurt you,” ucapnya tersenyum, mencoba mencairkan suasana. “Maksudku begini, kami bolehlah malas belajar dan tidak setertarik kau saat mendengar penjelasan guru, tetapi tidak berarti kami tidak cerdas. Istilah kerennya, itu bukan passion kami,” jelasnya. “Seperti sudah kubilang, kau boleh saja brilliant di sekolah, tetapi belum tentu jika kutantang main catur kau bisa mengalahkanku. Kakek buyutku, Kakek Howard Gardner pernah menjelaskan tentang hal ini,” candanya untuk membuatku berhenti berteriak-teriak. “Kira-kira begini teorinya, “the human beings are smart in many ways”. Jadi, pandaimu dalam sains tidak berarti kau pandai dalam segala hal. Kau mungkin pandai juga dalam pelajaran bahasa dan punya intrapersonal intelligence yang baik. Tetapi jujur saja, dibanding temanmu si Afika itu, kau pasti kalah dengannya dalam hal interpersonal. Kau tidak begitu pandai dalam membangun hubungan yang baik dengan teman. Kau juga kurang peka dengan perasaan orang lain. Kesimpulannya, setiap orang punya kecerdasannya masing-masing. Kau tahu Mimi, aku berpikir Tuhan menakdirkanku menjadi seorang diplomat hebat. Aku hebat dalam hal negosiasi…,” Mimi tiba-tiba memotong penjelasannya.
            “Sudahlah Butet. Berhenti memuji diri sendiri. Geli gue dengernya,” ujarku ketus. “Tapi terima kasih untuk penjelasannya. I got some points from them,” ucapku tersenyum. “Baik kali kau Butet,” tambahku seraya tertawa. “Ternyata lu pengamat yang baik ya dan punya pengetahuan yang cukup luas. I think you will be a great diplomat.”
            “Nah itu dia salah satu kelemahan kau. Don’t judge a book from its cover.”