“Khairunnas anfauhum, sebaik-baiknya manusia adalah manusia yang memberi manfaat bagi orang lain.”


Saturday, 31 March 2012

Shadow


Shadow

Aku pernah mengenalmu
Dulu, bertahun-tahun yang lalu
Kau berbeda, sangat berbeda
Angkuh, skeptis, dan misterius
Tetapi diam-diam kau peduli, sangat peduli

Kau tahu kawan,
Bahkan hingga bertahun-tahun aku tak pernah lupa dan tak ingin lupa
Bahwa aku pernah memilikimu

Entahlah…
Apakah kau masih seseorang yang sama?
Ataukah kini berbeda?
Ya, pasti berbeda

Kini kau hanya bayangan
Hanya imajinasiku
Kau tak pernah benar-benar ada
Kini kuragu apakah sahabat itu nyata…



Sepucuk Surat Untuk Indonesia


Sepucuk Surat Untuk Indonesia

Sepucuk surat untuk Indonesiaku
Setangkup harapan untuk negaraku
Sekeping rindu dariku untukmu negeri Indonesia

Jauh ku menghilang, akankah kembali, ah tak taulah
Bagaimanakah wajah Indonesiaku kini?
Hitam, putih, atau abu-abu seperti dulu?

Kutinggalkan dunia penuh ketidakberdayaan, lemah, terlalu lemah
Masihkan Justisia tinggal disana?
Ataukah kini Indonesiaku hidup dalam neraca justis yang timpang?

Aku kan kembali, nanti, ketika aku cukup berkuasa untuk merubahmu
Ssstt, aku sedang membangun disini
Membangun mimpi dan kekuatan untuk mencerahkan wajah Indonesiaku

Berapa Harga Keadilan?


Berapa Harga Keadilan?

Berapakah harga keadilan itu?
Haruskah kubayar dengan darah?
Berapakah harga keadilan itu?
Haruskah mati untuk mendapatkannya?

Dimanakah supremasi yang engkau elu-elukan wahai negaraku?
Dimanakah janji perlindungan itu?
Saat kami terpuruk dalam ketidakberdayaan
Adakah engkau melihat, mendengar, dan merasakan?

Saat letusan melululantahkan
Saat api melalap
Saat penjara menanti
Saat napas tinggal satu-dua

DIMANAKAH KEADILAN ITU?

Dimanakah kalian saat semua terjadi?
Apakah singgasana emas begitu melenakan bahkan untuk menengok sejenak?
Berapa harga keadilan itu?
Tak ada lagikah keadilan yang gratis tanpa nominal-nominal tebal itu?
Kurindu jiwa Indonesiaku, jiwa yang membawa surga bagi bangsa




Taubat


Taubat

Tuhan, kadang ku merasa lebih dekat denganMu
Tetapi sering ku merasa sangat jauh dariMu

Ketika gemuruh petir membisikkan peringatan
Ditambah dahsyatnya topan yang Kau kirimkan
Aku tahu alam pun geram denganku
Tetapi aku malu, malu untuk memohon ampunanMu

Batinku berperang dengan tubuhku
Aku tahu akan begini jadinya
Aku pun tahu harusnya mendengarkan senandung kalbuku
Tetapi hati itu, yang selalu memberikan kedamaian,  kini diam, membiarkanku sendiri dalam penyesalan

Seandainya bisa mengulang waktu
Inginku menjadi hamba yang bertaqwa, yang baik tempatnya disisiMu
Rasanya dosa ini terlalu besar untuk dimaafkan
Ya Allah, jangan berikan aku murkaMu
Terimalah taubatan ini…




Senandung seorang Tunawisma


Senandung seorang Tunawisma

Kukirim sehelai daun kering
Berharap Tuhan menjawab pintaku
Kutunggu hingga akhir waktu
Tapi pertolongan Tuhan tak kunjung datang

Aku lemah dan tak berdaya
Disini, dibalik rumah kardus kreasiku

Dalam alam bawah sadarku
Ada bisikan yang menghangatkan
“Datanglah ke rumah Allah, Zat Maha Sempurna menunggumu”

Secercah harapan menyemangatiku
Namun bibirku kelu, tubuhku kaku
Ada cahaya nan menyilaukan
Lambat laun mengarah padaku…

Aku tahu ia akan datang
Dan detik berikutnya mengambil rohku
Kupasrahkan semua,  seluruh hidupku
Dan di detik terakhir ini baru kusadari
Tak perlu mengirim pesan, Tuhan akan langsung menjawab pintaku


Palestina


Palestina

Palestina, apa kabarmu hari ini?
Apakah kini luka itu telah terobati?
Ataukah sudah terlanjur dalam dan menganga lebar?
Apakah telah kau temukan penawarnya?
Ataukah tak ada lagi yang mampu membuatmu tersenyum?

Setiap saat dengan letusan…
Setiap saat dengan kabut tebal…
Setiap saat dengan darah…
Setiap saat dengan kehilangan…

Puing-puing kehancuran mewarnai hari
Jiwa raga yang sulit menerima ditegar-tegarkan
Semuanya remuk redam, luluhlantah
Air mata menjadi teman sehari-hari

Bagaimanakah aku bisa melupakanmu?
Bagaimanakah aku mampu mengacuhkanmu?
Bagaimanakah aku dapat tertidur lelap sementara engkau menjerit lemah disana?

Dimanakah nurani persaudaraan itu?
Dimanakah semboyan Islam sebagai pemersatu?
Dimanakah aku saat engkau begitu rapuh tak berdaya?
Palestina, izinkan aku menjadi pengobat luka mengangamu


Friday, 30 March 2012

Kau Pagiku Kau Petangku


Kau Pagiku Kau Petangku

Matahari tak pernah bersinar seperti ini
Saat engkau disampingku
Dunia tak pernah secerah ini
Saat engkau bersamaku

Ibu… kau pagiku
Mimpi-mimpi masa muda bermekaran saat aku bersamamu
Semangatku menbuncah, bahkan desir darahku dapat kurasakan
Aku hanya ingin melihat senyum itu
Yang merekah dari bibirmu saat engkau bahagia karena aku

Ibu...kau juga petangku
Ketika raga ini tak sanggup membangun mimpi
Engkau sanggup menyusun puing-puing harapanku
Kasihmu yang agung sanggup membangkitkan asa yang mati
Jiwaku hidup saat bersamamu